Sabtu, 19 Januari 2019

KUMPARAN (lukisan tebing brown canyon)

Lukisan Tebing Brown Canyon Widodo Kabutdo



Perjalanan kesenian seniman memang kerap dimotivasi dengan ide-ide 'gila' untuk dapat menemukan spirit dalam karya yang akan dibuatnya. Seperti yang dilakukan oleh Widodo Kabutdo, seniman otodidak yang kini tinggal di Semarang setelah persinggahannya dalam berkesenian di Bali. Widodo yang sempat mengikuti test masuk STSI Bandung ini lebih sering belajar dari "perjalanan kehidupan". Merespon kondisi sosial budaya yang menurutnya perlu disikapi dalam bentuk proses berkarya, seperti halnya merespon  tebing Brown Canyon, salah satu bekas tambang galian golongan C di Rowosari, Tembalang, Semarang. Tempat yang jauh dari keramaian dan melewati tempat pembuangan sampah tersebut disiapkan sebagai tempat membuat karya yang disebutnya "Perjalanan Menuju Anugrah".


Dari awal proses berkarya di Brown Canyon ini, Widodo kerap memposting di sosial media perihal keinginannya membuat karya di bukit kapur. Dia sepertinya berusaha terbuka mengenalkan ide-idenya berjalan dan mengalir hingga mendapat respon dan dukungan dari netizen baik moril maupun materiil.


Menarik selama proses karya berlangsung, aktifitasnyayang dimulai pada pertengahan Agustus 2016  ini memancing rasa penasaran publik setelah publikasinya yang rutin dilakukan disosial media. Dia pun lantas membuat workshop lukisan dari debu untuk anak-anak kampung sekitar.


 ”Konturnya berlapis, memaknai kebesaran Tuhan yang keagungannya berlapis. Membuat jelmaan alam. Lilitan-lilitan itu bisa berupa alam, bisa pohon, bisa penjaga di sini.” Bentuk lain yang ia gambar adalah tangga tanpa pondasi. Widodo menggambarkan filosofi hidup seperti anak tangga, dan pondasi adalah keyakinan atau keimanan.  Begitu Widodo menjelaskan makna filosofi dari keindahan alam Brown Canyon dan menggugahnya membuat karya disana.


Pria kelahiran Tegal, 24 Juli 1982  ini meyakinkan bahwa proses berkaryanya tersebut merupakan proyek pribadi dan bertujuan sosial dengan harapan dapat memberi nilai ekonomi bagi masyarakat setempat. Sungguh niat dan laku seni yang mulia dari seorang seniman yang masih jauh dari 'mapan' namun mau berfikir dan berbuat untuk masyarakat.


Indonesian Art & Culture Community menempatkan karya Widodo Kabutdo sebagai karya paling spektakuler sepanjang tahun 2016 dan patut ditiru oleh seniman yang konsen pada gerakan realisme sosial. Selamat buat Widodo Kabutdo.


Source :

Selasa, 15 Januari 2019

Mural Raksasa di Tebing Bekas Galian C (BROWN CANYON)

Mural Raksasa di Tebing Bekas Galian C 
BROWN CANYON


RADAR SEMARANG
10 Oktober 2016


BROWN Canyon di mata Widodo Kabutdo, 33, merupakan tempat yang memiliki daya tarik tersendiri. Ia melihat tebing-tebing batu, padas dan tanah tersebut ibarat ”kanvas” raksasa. Seniman kelahiran Tegal yang selama ini dikenal dengan karya-karya berbahan sampah plastik ini, tengah membuat mural raksasa di tebing Brown Canyon.

Sudah sekitar sebulan Widodo berkarya di Brown Canyon. Sebuah dinding padas sepanjang sekitar 25 meter sudah dihiasi lukisan meski baru konsep awal yang jauh dari selesai. Figur yang ditampilkan serupa benda yang meliuk mirip ular, ikan, tangga dan lainnya. Ia menggunakan cat genteng yang antiair untuk mewarnai tebing-tebing batu dan padas.



”Gambar ini menyangkut sisi spiritual diri saya yang digabung dengan mitologi Desa Rowosari tapi dengan sentuhan modern,” tutur Widodo yang mengeluarkan dana pribadi untuk mewujudkan karya seni ini.

Perupa otodidak dengan pendidikan formal Sekolah Teknik Menengah (STM) jurusan teknik mesin di Bandung ini menjelaskan, objek yang meliuk-liuk tersebut mencul begitu saja dalam pikirannya ketika pertama kali menyusun konsep gambar yang akan dibuat. Ternyata sketsa awal itu membuat kaget warga setempat. Sebab berdasarkan kepercayaan warga setempat, penunggu kawasan Brown Canyon adalah ular 



”Saya menggunakan pendekatan mitologi setempat untuk mencari inspirasi di situs Watu Lumbung ini,” jelas perupa yang pernah 5 tahun tinggal di Bali ini.

Watu Lumbung adalah sebuah batu raksasa di lokasi ini yang dikeramatkan sebagian warga. Di masa lalu, bila kemarau panjang menimpa kawasan Rowosari, maka warga akan berdoa di Watu Lumbung untuk meminta hujan.

Rencananya, Widodo tidak hanya memajang mural di tebing pada kegiatan yang ia namai Sekolah Tinggi Alam Jagat Raya (STAJR) Artventure Project ini. Dalam konsepnya, akan ada seni instalasi yang ditempatkan di atas kubangan air bekas lokasi galian C. Ia juga berangan-angan bisa menampilkan video mapping pada dinding padas menjulang tinggi yang menjadi ikon Brown Canyon.

Aktivitas Widodo ini ternyata juga menarik perhatian anak-anak di sekitar Rowosari. Mereka ada yang tertarik ikut menggambar di tebing sesuai dengan konsep yang telah direncanakan. Selain itu, setiap Sabtu dan Minggu, Widodo juga menggelar workshop melukis dengan bahan debu yang langsung diminati anak-anak.

Pengamat Seni Rupa Semarang Tubagus P Svarajati melihat karya Widodo ini masuk kategori environmental art atau seni lingkungan. Widodo merespons dan memberikan artikulasi baru terhadap lingkungan yang digarapnya.

Tubagus melihat, praktik yang dilakukan Widodo ini sebenarnya lazim di mana-mana. Tapi khusus di Semarang, ini tergolong baru karena ia menyimpang dari kelaziman sebagian besar perupa Semarang yang khusyuk bekerja di studio.
”Dengan menggambari dinding atau tebing bekas galian itu, praktik Widodo mirip yang dilakukan oleh manusia purba di gua-gua. Ia meninggalkan jejak-jejak dan pesan,” jelasnya.


Dalam wacana seni rupa kontemporer, lanjut Tubagus, Widodo telah menjadikan lanskap Brown Canyon sebagai kanvas besar bagi perupaan yang diproduksinya. Ini pilihan estetik dan artistik yang cerdas dan dahsyat.

”Dengan cara itu, ia memberikan makna baru terhadap Brown Canyon. Bukan saja sebagai situs yang terbengkalai, sekadar lokasi pemotretan semenjana. Gubahan Widodo itu memberikan nilai lebih sebagai situs kultural dan area wisata baru.” (*/ida/ce1)


source :

Pranoto, Radar Semarang10 Oktober 2016

https://radarsemarang.com/2016/10/10/mural-raksasa-di-tebing-bekas-galian-c-brown-canyon/

Senin, 17 November 2014

“Diplomasi Seni, Di Antara Dua Negara Dalam Negeri Kita Sendiri"


“Diplomasi Seni, Di Antara Dua Negara 
Dalam Negeri Kita Sendiri"











"Diplomasi Seni Di Antara Dua Negara Dalam Negri Kita Sendiri'karya; widodo kabutdo, mix media on canvas100x80cm 2010 (karya ini design cover buku Naskah Drama Tiga lakon karya:Bpk Nurhidayat Poso Seniman Sartra Tegal Jawa Tengah.



Pelukis Tegal widodo-widodokabutdo-Nurhidayat Poso sastrawan.Setelah 8th ttak berjumpa, akhirnya bisa berfoto bersama.(foto diatas tidak ada kaitannya dengan tusisan. ini hanya melengkapi data keterangan karya lukis di atas.



           Katakanlah dunia seni adalah Negeri kita, meskipun berpolitik itu hanya sekedar diplomasi cinta antar sesama. Katakanlah  Seni adalah Negeri kita …yang di huni orang jujur, setia,  kerja keras, ikhlas, tegar dan apa adanya , meskipun keberadaannya masih nupang di negri  tetangga. Negeri yang satu ini juga ada banyak jeritan sama seperti di negri tetangga., Tapi semua itu selalu di selimuti canda dan tawa, meskipun tak perlu nunjuk siapa presidannya.


    Saya khawatir para petinggi di Negeri kita yang satu ini mempunyai mental  seperti  pemimpin di Negri tetangga”Ini hanya sekedar orasi cinta” Pesan saya untuk para pakar dan petinggi Negeri yang bisa mengendalikan Negeri  kita yang satu ini…Ayo Bung!!, rangkullah anak Negeri ini sebelum mereka menjadi keledai di Negeri sendiri dan jangan biarkan sampai harus menggadaikan di Negeri orang, hanya karna mempertimbangkan gengsi dan keuntungan semata .”Jangan Tiru Negeri  Tetangga” banyak di huni dan melahirkan mental para pemimpin yang sudah tidak lagi sehat, yang  seharusnya Negeri  ini bisa SEHAT dan HEBAT. Namun kehebatannya selalu di sia-siakan dan di acuhkan.


    Anak Negeri  menangis ….Menangis karna kehebatannya di kalahkan tanpa adanya musuh yang melawan, anak Negeri murung karna kepintarannya di sia-siakan dan tergadaikan. Anak Negeri menjadi miskin karna selalu membuat kaya sebulum dirinya. Anak Negeri  hanya bisa  meratap karna tak ada sepenggal cerita yang bisa di ceritakan, kalau pun ada itu sudah jadi milik Negeri orang”akhir kisah Anak Negeri hanya berkata ajari aku menanamkan nasionalime dalam diri, agar aku bisa mencintai dan bangga berkarya di Negeri sendiri.

catatan Handphon....2013 Bali, Ubud "widodo kabutdo"

Sabtu, 15 November 2014

Melukis Itu Sehat, Apalagi Untuk Beristirahat



   Melukis bagiku sebuah penyegaran. Bagiku melukis adalah relaksasi/ istirahat, dengan melukis aku memiliki waktu untuk beristirahat, kenapa ? karena pada saat melukis aku berusaha untuk tidak berfikir keras lagi, segera ambil keputusan atau tidak sama sekali dari pada berpikir banyak saat hendak melukis. dibandingkan sebelum atau dalam keadaan tidak melukis.

     Saat melukis aku harus membebaskan apa yang akan muncul dalam intuisi dan munculnya imajinasi. Meskipun melukis  adalah tindakan yang  menyenangkan, dan  aku sangat mencintai pekerjaan ini, karna melukis sudah menjadi kebutuhan dan sulit untuk dipisahkan dalam hidup, Namun bagiku melukis sangatlah tidak mudah, walaupun saya mengatakan melukis adalah cara saya beristirahat.

   Dalam melukis aku tidak hanya  cukup bisa mengandalkan keahlian mengambar, dan memiliki ide cemerlang saat hendak melukis, namun dalam melukis aku juga harus bisa memilih, memfokuskan apa yang bisa aku presentasikan  dari apa yang telah saya buat.

   Adapun kesulitan lain, diantaranya bagaimana caranya   melukis “istirahat”  tanpa beban, seikhlas mungkin ,walau sementara saat melukis, aku harus bisa menanggalkan dulu pikiran, perasaan di luar persoalan yang kiranya akan dapat mengganggu saat aku melukis “beristirahat”, dan harus rileks tentunya, Seperti apa yang telah saya katakan melukis adalah waktu untuk saya beristirahat, jadi seperti layaknya orang yang sedang beristirahat, melukis ‘istirahat’ tidak bisa  di paksakan dan memaksakan diri. Meskipun itu bisa namun kualitas yang akan menentukan.

   Ketika sedang melukis,proses dialog antara hati dan pikiranku itu selalu terjadi. Dengan demikian, tak jarang saat aku melukis aku berusaha membagi antara hasil kerja otak/pikiran dan intuisi/suasana hati. Setelah proses melukis selesai, dialog antara otak dan hati seperti yang sedang mendiskusikan sesuatu, keduanya saling mempersentasikan hasil kerjanya.Seperti seakan mencari makna dan segera mengambil keputusan untuk mengembangkan proses kreatif berikutnya hingga batas akhir, meski seakan karya tak pernah bisa selesai. Adapun dalam proses berkarya yang memakan waktu  hingga bertahun-tahun lamanya untuk saya bisa memutuskan karya tersebut selesai.


   Tak jarang juga hingga berbulan-bulan aku tidak membuat gambar, bisa seperti diartikan kurangnya beristirahat. Lalu kapan saya bekerja dan kapan saat saya beristirahat? Saya bekerja saat saya berpikir, berkontemplasi, observasi, seperti layaknya manusia yang sedang menjelajahi semesta alam, bersosialisasi. Dan semuanya itu sebagai bentuk ritual yang menjadi sarana proses spirituallitas diri, Dan lalu aku akan berhenti untuk beristirahat dengan cara melukis.

    Melukis itu penyegaran, seperti beristirahat, Artinya dalam melukis aku ingin selalu mendapatkan penyegaran dan  menyegarkan tentunya. Sesuatu yang membebani harus segera di tinggalkan, agar dapat menampung kekuatan baru, imajinasi baru, dan tentunya dengan karya karya baru, yang dapat menyegarkan proses kreatifku selanjutnya.

    Melukis di atas limbah plastik adalah upayaku dalam berkarya, yang hanya mencoba memanfaatkat  limbah plastik, sebagai dasar media untuk aku melukis. walaupun aku tidak bisa lepas dari berbagi komentar, bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan sampah/limbah selalu di kait-kaitkan dengan lingkungan (seniman lingkungan). Bagiku seni memikili bahasa yang lentur, terbuka dan universal, termasuk seni harus mengikuti perkembangan industri, karena  seni tidak akan bisa lepas dari dunia industri.

“Widodo Kabutdo” Ubud- Bali 2011

Jumat, 14 November 2014

Seni Rupa Dan Kesadaran Ekologis

The Last Paradise adalah julukan yang, hingga kini, masih disandang oleh pulau Bali sebagai destinasi utama yang dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia. Eksotika panorama alam tropis yang tergambar dalam birunya laut, lengkap dengan pasir putih dan sunset sebagai ornamen pendukungnya. Citraan itulah yang tentunya sudah melekat dalam benak semua orang dari seluruh penjuru dunia sebagai ekses dari reproduksi citra yang ditopang oleh kuatnya modal dari para penggerak industri pariwisata.
Tidak bisa dipungkiri memang, godaan mata uang asing memang menggiurkan bagi masyarakat dari sebuah negara berkembang. Kemandirian finansial yang belum tertata rapi secara sistematika sosial, dan kultur masyarakat yang terbuka sangat memungkinkan masuknya para investor di sektor wisata. Apalagi dengan modal dasar melimpah dari segi alam dan kultural sebagai daya tarik utama wisatawan.
Di Bali, industri pariwisata telah menjadi penggerak utama perekonomian masyarakatnya sejak kisaran tahun 1950-an. Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah pusat yang terus membuka kran bagi investor untuk masuk dan menggerakkan roda industrinya di Bali. Mungkin sudah lebih dari seratus juta wisatawan yang datang ke Bali sejak kurun waktu tersebut. Seolah-olah, wisatawan sudah menjadi bagian dari tata sosial masyarakat. Mereka sudah begitu leluasa keluar masuk, berseliweran di antara aktifitas sosial dan keagamaan yang dilakukan masyarakat. Bahkan masyarakatnya sendiri pun, sudah tidak risih ketika tengah kusyuk berdoa, dan disampingnya seorang wisatawan asyik memotretnya berulang kali.
Ekses utama dari penggembangan industri prawisata secara jor-joran yang paling nampak saat ini adalah semakin pudarnya relasi antara manusia dan alam, yang padahal merupakan ruh dari tradisi masyarakat Bali secara turun temurun. Alih fungsi lahan hijau menjadi bangunan-bangunan infrastruktur penopang pariwisata tentu berimbas langsung pada makin tergerusnya eksistensi alam sebagai penopang utama keseimbangan ekologi.
Berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap persoalan tersebut berusaha melontarkan kritik terhadap pemerintah, tidak luput beberapa perupa yang turut menyuarakan kritik dengan menggelar pameran. Adalah Galangkangin, kelompok seni rupa yang dimotori oleh I made supena menggelar sebuah pameran dengan tajuk “kesadaran makro ekologis” di Bentara Budaya Bali (20/9) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan ekologis yang terjadi di Bali.
Air menjadi elemen utama yang disoroti oleh mereka. Dengan mengusung gagasan transformasi air dalam ruang seni rupa, mereka mencoba menampilkan berbagai bentuk instalasi yang menggunakan air sebagai pijakan berpikirnya. Bagi mereka, air merupakan sumber kehidupan. Dalam aspek kosmologis, di Bali air juga menjadi komponen utama penggerak sistem sosial dan ekonomi masyarakatnya yang masih didominasi oleh tradisi agraris.
Minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan hidup dengan melestarikan air sebagai komponen utama penyangga alam, menjadi keprihatinan utamanya. Melalui pameran tersebut, Galangkangin melakukan sebuah upaya edukasi terhadap masyarakat mengenai pentingnya air bagi kehidupan, tentu dengan tujuan agar masyarakat semakin peduli dan turut serta menjaga kelestarian alam.
Karya Widodo Kabutdo di atas medium plastik bekas
Karya Widodo Kabutdo di atas medium plastik bekas
Ini bukan kali pertama Galangkangin mengusung tema pelestarian alam dalam pamerannya. Pada 2012 lalu, Galangkangin juga menggelar pameran bertema serupa di Griya Santrian, Sanur. Saat itu, isu utama yang diusung adalah mengenai peralihan fungsi lahan pertanian menjadi hunian. Semakin meningkatnya jumlah populasi masyarakat yang tinggal di Bali, tidak hanya dari semakin berkembangnya masyarakat lokal, melainkan juga jumlah pendatang yang terus meningkat setiap tahunnya menuntut semakin luasnya areal pemukiman yang dapat ditempati. Hal ini tentu menuntut adanya alih fungsi lahan.
Di Bali sendiri, alam, lingkungan, dan persoalan lingkungan masih menjadi tema utama yang disuarakan oleh para perupa. Beberapa nama di luar kelompok Galangkangin, seperti Made Bayak, Widodo Kabutdo, Bakti Wiyasa, hingga maestro Made Wianta masih menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan ekologis yang kini menjadi persoalan utama di Bali.
Made Bayak dan Widodo Kabutdo, dalam beberapa karyanya cukup konsisten untuk bertransformasi media dari kanvas ke plastik bekas. Mereka tidak lagi melukis di atas kanvas, melainkan di plastik-plastik limbah rumah tangga yang mereka peroleh dari kehidupannya sehari-hari. Kesadaran ini tumbuh dari kegelisahan mengenai tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan, padahal limbah plastik bersifat anorganik dan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dapat terurai sempurna.
Sejak disentuh oleh industri pariwisata, secara perlahan-lahan, Bali mengalami degradasi ekologis yang cukup signifikan. Persoalan-persoalan kelestarian lingkungan dan semakin menurunnya jumlah lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi infrastruktur penopang pariwisata, pada akhirnya menjadi isu yang terus berulang dan terngiang-ngiang di telinga. Maka dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk dapat mengembalikannya ke kondisi semula, atau setidaknya mencegah kerusakan yang lebih parah. Dan para perupa, bersiap untuk menggedor kesadaran mereka melalui karya-karya yang bernas dan kritis.
Dwi S. Wibowo
- See more at: http://jogjareview.net/seni/seni-rupa-dan-kesadaran-ekologis/#sthash.MCLNCegs.dpuf


http://jogjareview.net/seni/seni-rupa-dan-kesadaran-ekologis/ 
 http://jogjareview.net/category/seni/

 Seni Rupa dan Kesadaran Ekologis

Seni Rupa dan Kesadaran Ekologis

Jogjareview.net | 10-Okt-2014 08:10:31
- See more at: http://jogjareview.net/seni/seni-rupa-dan-kesadaran-ekologis/#sthash.MCLNCegs.dpuf

Seni Rupa dan Kesadaran Ekologis



The Last Paradise adalah julukan yang, hingga kini, masih disandang oleh pulau Bali sebagai destinasi utama yang dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia. Eksotika panorama alam tropis yang tergambar dalam birunya laut, lengkap dengan pasir putih dan sunset sebagai ornamen pendukungnya. Citraan itulah yang tentunya sudah melekat dalam benak semua orang dari seluruh penjuru dunia sebagai ekses dari reproduksi citra yang ditopang oleh kuatnya modal dari para penggerak industri pariwisata.
Tidak bisa dipungkiri memang, godaan mata uang asing memang menggiurkan bagi masyarakat dari sebuah negara berkembang. Kemandirian finansial yang belum tertata rapi secara sistematika sosial, dan kultur masyarakat yang terbuka sangat memungkinkan masuknya para investor di sektor wisata. Apalagi dengan modal dasar melimpah dari segi alam dan kultural sebagai daya tarik utama wisatawan.
Di Bali, industri pariwisata telah menjadi penggerak utama perekonomian masyarakatnya sejak kisaran tahun 1950-an. Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah pusat yang terus membuka kran bagi investor untuk masuk dan menggerakkan roda industrinya di Bali. Mungkin sudah lebih dari seratus juta wisatawan yang datang ke Bali sejak kurun waktu tersebut. Seolah-olah, wisatawan sudah menjadi bagian dari tata sosial masyarakat. Mereka sudah begitu leluasa keluar masuk, berseliweran di antara aktifitas sosial dan keagamaan yang dilakukan masyarakat. Bahkan masyarakatnya sendiri pun, sudah tidak risih ketika tengah kusyuk berdoa, dan disampingnya seorang wisatawan asyik memotretnya berulang kali.
Ekses utama dari penggembangan industri prawisata secara jor-joran yang paling nampak saat ini adalah semakin pudarnya relasi antara manusia dan alam, yang padahal merupakan ruh dari tradisi masyarakat Bali secara turun temurun. Alih fungsi lahan hijau menjadi bangunan-bangunan infrastruktur penopang pariwisata tentu berimbas langsung pada makin tergerusnya eksistensi alam sebagai penopang utama keseimbangan ekologi.
Berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap persoalan tersebut berusaha melontarkan kritik terhadap pemerintah, tidak luput beberapa perupa yang turut menyuarakan kritik dengan menggelar pameran. Adalah Galangkangin, kelompok seni rupa yang dimotori oleh I made supena menggelar sebuah pameran dengan tajuk “kesadaran makro ekologis” di Bentara Budaya Bali (20/9) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan ekologis yang terjadi di Bali.
Air menjadi elemen utama yang disoroti oleh mereka. Dengan mengusung gagasan transformasi air dalam ruang seni rupa, mereka mencoba menampilkan berbagai bentuk instalasi yang menggunakan air sebagai pijakan berpikirnya. Bagi mereka, air merupakan sumber kehidupan. Dalam aspek kosmologis, di Bali air juga menjadi komponen utama penggerak sistem sosial dan ekonomi masyarakatnya yang masih didominasi oleh tradisi agraris.
Minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan hidup dengan melestarikan air sebagai komponen utama penyangga alam, menjadi keprihatinan utamanya. Melalui pameran tersebut, Galangkangin melakukan sebuah upaya edukasi terhadap masyarakat mengenai pentingnya air bagi kehidupan, tentu dengan tujuan agar masyarakat semakin peduli dan turut serta menjaga kelestarian alam.
Karya Widodo Kabutdo di atas medium plastik bekas
Karya Widodo Kabutdo di atas medium plastik bekas
Ini bukan kali pertama Galangkangin mengusung tema pelestarian alam dalam pamerannya. Pada 2012 lalu, Galangkangin juga menggelar pameran bertema serupa di Griya Santrian, Sanur. Saat itu, isu utama yang diusung adalah mengenai peralihan fungsi lahan pertanian menjadi hunian. Semakin meningkatnya jumlah populasi masyarakat yang tinggal di Bali, tidak hanya dari semakin berkembangnya masyarakat lokal, melainkan juga jumlah pendatang yang terus meningkat setiap tahunnya menuntut semakin luasnya areal pemukiman yang dapat ditempati. Hal ini tentu menuntut adanya alih fungsi lahan.
Di Bali sendiri, alam, lingkungan, dan persoalan lingkungan masih menjadi tema utama yang disuarakan oleh para perupa. Beberapa nama di luar kelompok Galangkangin, seperti Made Bayak, Widodo Kabutdo, Bakti Wiyasa, hingga maestro Made Wianta masih menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan ekologis yang kini menjadi persoalan utama di Bali.
Made Bayak dan Widodo Kabutdo, dalam beberapa karyanya cukup konsisten untuk bertransformasi media dari kanvas ke plastik bekas. Mereka tidak lagi melukis di atas kanvas, melainkan di plastik-plastik limbah rumah tangga yang mereka peroleh dari kehidupannya sehari-hari. Kesadaran ini tumbuh dari kegelisahan mengenai tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan, padahal limbah plastik bersifat anorganik dan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dapat terurai sempurna.
Sejak disentuh oleh industri pariwisata, secara perlahan-lahan, Bali mengalami degradasi ekologis yang cukup signifikan. Persoalan-persoalan kelestarian lingkungan dan semakin menurunnya jumlah lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi infrastruktur penopang pariwisata, pada akhirnya menjadi isu yang terus berulang dan terngiang-ngiang di telinga. Maka dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk dapat mengembalikannya ke kondisi semula, atau setidaknya mencegah kerusakan yang lebih parah. Dan para perupa, bersiap untuk menggedor kesadaran mereka melalui karya-karya yang bernas dan kritis.
Dwi S. Wibowo