Widodo Kabutdo (lahir di Tegal, Jawa Tengah, 1982) adalah seniman visual otodidak Indonesia yang mengembangkan praktik artistik lintas medium sejak awal tahun 2000-an. Praktiknya mencakup seni lukis, instalasi, patung, performance art, eksplorasi bunyi, serta penggunaan material temuan sebagai bagian dari proses artistik.
Praktik artistiknya berangkat dari upaya membaca bagaimana kehidupan meninggalkan jejak. Baginya, jejak bukan sekadar bekas dari sebuah peristiwa, melainkan sesuatu yang terus mengendap menjadi residu melalui ruang, waktu, tubuh, dan material. Cara pandang tersebut menjadi landasan yang menghubungkan seluruh perjalanan artistiknya selama lebih dari dua dekade.
Ketertarikannya pada seni tumbuh sejak masa kanak-kanak melalui aktivitas menggambar. Namun, yang lebih membentuk praktiknya adalah kebiasaan mengamati kehidupan sehari-hari—benda-benda yang ditinggalkan, ruang-ruang yang berubah, suara, serta berbagai pengalaman yang terus melekat dalam ingatan. Aktivitas menggambar kemudian berkembang bukan hanya sebagai bentuk ekspresi, tetapi sebagai cara memahami pengalaman hidup dan dunia di sekitarnya.
Pada tahun 1998 ia pindah ke Bandung. Di kota ini ia aktif dalam komunitas musik hardcore dan teater, pengalaman yang memperluas cara pandangnya terhadap tubuh, ruang, ritme, dan kehadiran. Pengalaman lintas disiplin tersebut membentuk metode berpikir yang kemudian memengaruhi praktik visualnya, di mana karya tidak hanya dipahami sebagai citra, tetapi juga sebagai pengalaman ruang, material, dan tubuh.
Sejak awal tahun 2000-an ia mulai menyadari bahwa berbagai pengalaman hidup selalu meninggalkan jejak yang dapat dibaca. Ketertarikan ini berkembang melalui pengamatan terhadap ruang perkotaan, benda-benda sehari-hari, suara, lanskap, dan berbagai material yang dianggap biasa. Pada tahun 2004, setelah bencana tsunami Pangandaran, ia bereksperimen menggunakan suara kantong plastik sebagai bagian dari kegiatan menggambar bersama anak-anak penyintas. Gesekan plastik menghasilkan bunyi yang menyerupai gemuruh ombak, namun melalui aktivitas kreatif tersebut suara yang semula diasosiasikan dengan trauma perlahan berubah menjadi pengalaman baru. Peristiwa ini memperkuat keyakinannya bahwa material tidak hanya memiliki bentuk, tetapi juga menyimpan pengalaman dan memori.
Pada periode berikutnya ia mulai melukiskan jejak suara, kebisingan kendaraan, suara serangga, hingga keheningan sebagai pengalaman yang tetap hidup di dalam tubuh meskipun sumber bunyinya telah hilang. Pengalaman ini memperluas pemahamannya bahwa jejak tidak selalu bersifat visual, tetapi juga dapat hadir sebagai pengalaman psikis, ruang, dan ingatan.
Sejak tahun 2011, plastik menjadi salah satu material utama dalam praktiknya. Ketertarikannya tidak berangkat dari gagasan mendaur ulang atau mengubah limbah menjadi produk baru, melainkan dari keinginan membaca jejak yang melekat pada material tersebut. Baginya, setiap plastik memiliki sejarah penggunaan, fungsi, kerutan, robekan, lipatan, warna, dan usia yang berbeda. Karakter-karakter tersebut dipertahankan sebagai bagian dari jejak yang membentuk identitas material itu sendiri.
Dalam praktiknya, plastik dipahami sebagai arsip peradaban. Material ini merekam sejarah konsumsi, perubahan budaya, serta hubungan manusia dengan lingkungan. Bahkan sebelum seorang anak dilahirkan, jejak plastik telah hadir melalui berbagai bentuk konsumsi orang tuanya. Dari pemahaman tersebut lahir pandangan bahwa tubuh manusia dan material sama-sama merupakan bagian dari proses pewarisan yang terus berlangsung. Tubuh bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan residu dari hubungan biologis, pengalaman psikis, memori, dan sejarah kehidupan.
Pemahaman mengenai jejak dan residu kemudian berkembang melalui berbagai eksperimen berbasis ruang dan lanskap. Salah satu praktik yang menjadi penanda penting adalah Brown Canyon Artventure Project di kawasan bekas tambang Brown Canyon, Rowosari, Semarang. Berangkat dari ketertarikannya terhadap lanskap yang terus berubah akibat aktivitas penambangan, ia menjadikan tebing-tebing batu sebagai bidang lukis berskala monumental. Dalam proyek ini ia tidak sekadar menghadirkan mural pada permukaan tebing, tetapi membaca Brown Canyon sebagai ruang yang menyimpan lapisan sejarah geologi, mitologi lokal, dan jejak aktivitas manusia. Menariknya, berbagai bentuk yang muncul secara intuitif dalam mural tersebut kemudian diketahui memiliki kemiripan dengan kisah-kisah rakyat yang masih hidup di masyarakat sekitar, termasuk mitos mengenai Watu Lumbung dan sosok ular penjaga kawasan tersebut. Pertemuan antara intuisi visual dan ingatan kolektif ini semakin memperkuat keyakinannya bahwa ruang menyimpan jejak yang dapat terbaca melalui praktik artistik.
Melalui proyek tersebut ia juga mengembangkan lokakarya bersama anak-anak dan masyarakat sekitar, serta mengeksplorasi debu hasil penambangan sebagai medium melukis. Debu tidak diperlakukan sebagai limbah, melainkan sebagai material yang membawa identitas lanskap yang perlahan menghilang. Dengan memindahkan debu ke dalam lukisan, ia berupaya mempertahankan ingatan atas bukit yang terus terkikis oleh eksploitasi. Dalam pengertian ini, tindakan melukis pada tebing bukan hanya intervensi artistik, tetapi juga dapat dipahami sebagai upaya simbolik untuk memberi lapisan perlindungan, merawat ingatan, dan meninggalkan jejak baru pada ruang yang sedang mengalami perubahan.
Pemahaman mengenai residu juga berkembang melalui eksperimen dengan material organik. Dalam salah satu instalasinya ia mengumpulkan daun-daun gugur yang setiap hari jatuh di bawah pohon, kemudian menyusunnya kembali menyerupai batang pohon. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa daun yang membusuk tidak pernah benar-benar berakhir; ia berubah menjadi humus, nutrisi bagi pohon, sekaligus melahirkan kehidupan baru bagi jamur, mikroorganisme, dan berbagai organisme lain. Pengalaman ini memperkuat keyakinannya bahwa residu bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan bentuk transformasi kehidupan yang terus berlangsung.
Cara berpikir tersebut kemudian memengaruhi metode melukisnya. Ia tidak selalu memulai karya dari sketsa atau komposisi yang telah direncanakan. Sapuan kuas, aliran cat, bekas material, endapan warna, dan berbagai peristiwa visual dibiarkan berkembang secara intuitif. Jejak-jejak visual yang muncul selama proses tersebut kemudian dibaca kembali, direspons, dan perlahan membentuk figur, lanskap, maupun bentuk-bentuk ambigu yang lahir dari dialog antara material, pengalaman, dan ruang. Baginya, melukis bukan sekadar membentuk gambar, melainkan membaca bagaimana jejak berkembang menjadi bentuk.
Melalui praktik lintas medium ini, Widodo Kabutdo memandang seni bukan terutama sebagai cara merepresentasikan dunia, tetapi sebagai metode untuk membacanya. Karya-karyanya mengajak penonton melihat bahwa setiap tubuh, ruang, material, dan pengalaman selalu membawa jejak yang terus bertransformasi menjadi residu. Dalam pengertian tersebut, berkarya bukanlah upaya menghasilkan jawaban, melainkan mempertahankan kemampuan untuk terus bertanya, membaca perubahan, dan merawat ingatan yang tersimpan dalam jejak-jejak kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar