Biography

ARTIST STATEMENT Saya adalah seniman otodidak, lahir di Tegal pada tahun 1982. Praktik artistik saya bergerak lintas medium, meliputi seni lukis, patung, instalasi, seni performans, dan sound art. Karya-karya saya berangkat dari pengalaman hidup personal—masa lalu, masa kini, serta proyeksi masa depan sebagai harapan—yang saya refleksikan melalui isu lingkungan, kesadaran diri, dan relasi antara manusia dengan alam dalam konteks kehidupan kontemporer. Ketertarikan saya pada seni tumbuh sejak masa kanak-kanak. Aktivitas menggambar dan melukis menjadi kesenangan sehari-hari, bermula dari pembuatan lambang-lambang dan simbol Pramuka. Dari praktik sederhana tersebut, saya mulai menerima permintaan melukis potret wajah. Pengalaman ini menjadi titik awal di mana seni tidak hanya berfungsi sebagai medium ekspresi, tetapi juga sebagai sarana bertahan hidup. Melalui praktik keseharian secara otodidak, saya terus mengasah kemampuan artistik saya. Pada tahun 1998, saya pindah ke Bandung. Di kota ini, perjalanan artistik saya berkembang secara multidisipliner. Saya terlibat aktif dalam dunia musik metal—khususnya genre hardcore—serta teater. Pengalaman lintas disiplin ini memperluas pemahaman saya terhadap tubuh, suara, ruang, dan ekspresi performatif. Pada periode yang sama, saya tetap aktif berkarya seni rupa dan mengikuti berbagai pameran di Bandung, yang memperkuat fondasi praktik visual saya. Plastik kemudian menjadi medium yang paling dekat dan personal dalam perjalanan artistik saya. Ketertarikan ini berakar dari pengalaman masa kecil di awal 1990-an, ketika kantong plastik mulai menggantikan koran sebagai pembungkus belanja di pasar tradisional. Kehadiran plastik saat itu terasa asing—seperti benda alien atau makhluk dari dunia lain—yang memunculkan rasa bingung sekaligus keterkejutan. Pengalaman visual dan emosional tersebut membekas kuat dan membentuk relasi personal saya dengan plastik hingga hari ini. Relasi tersebut berkembang menjadi praktik artistik yang eksperimental. Secara spontan, saya mulai menggunakan kantong plastik sebagai medium visual sekaligus sonik, termasuk mengeksplorasi suara khas “kresek”. Dari eksplorasi bunyi ini, pada tahun 2004 saya mengembangkan karya sound art berbasis terapi pasca-tsunami di Pangandaran. Sekitar lima ratus anak terlibat dalam kegiatan menggambar di atas plastik, di mana gesekan tangan mereka menghasilkan suara gemuruh kolektif. Bunyi tersebut berfungsi sebagai medium katarsis, membantu anak-anak melepaskan trauma, karena sebelumnya suara gemuruh diasosiasikan dengan datangnya bencana. Dalam proses berkarya, plastik menghadirkan tantangan material yang signifikan: licin, tipis, transparan, sulit ditempeli, dan tidak mudah dicat. Karakter material yang “menolak” ini justru memicu saya untuk terus bereksperimen dan menemukan pendekatan visual serta teknis yang tidak konvensional. Sejak 2009—tepatnya saat saya kembali berkarya di Bali—fokus karya saya semakin menguat pada isu-isu lingkungan seperti limbah, kebisingan, dan kepadatan, baik secara fisik maupun simbolik. Bagi saya, “sampah” tidak semata sesuatu yang kotor atau menjijikkan, melainkan metafora tentang noise, kepenuhan informasi, dan kesia-siaan yang membanjiri kehidupan modern. Dalam konteks tersebut, tubuh saya kerap saya libatkan sebagai medium—sebagai alat pengindraan sekaligus sarana penggalian kesadaran terhadap alam, budaya, dan dimensi spiritual. Saya memandang plastik bukan sebagai sampah, melainkan sebagai limbah: material yang masih memiliki potensi untuk digunakan kembali, didaur ulang, dan dimaknai ulang. Melalui karya lukisan, patung, dan instalasi berbasis plastik, saya berupaya menghadirkan plastik bukan sebagai simbol kehancuran, melainkan sebagai medium komunikasi dan refleksi. Saya memilih plastik sebagai medium berkesenian karena plastik memiliki relasi yang sangat dekat dengan perjalanan panjang peradaban manusia sejak abad ke-19 hingga hari ini. Dalam praktik saya, penggunaan plastik tidak terbatas pada limbah atau plastik bekas, tetapi juga material plastik baru. Bagi saya, yang terpenting bukan semata status materialnya, melainkan bagaimana plastik digunakan secara tepat guna dan diperlakukan secara bijak dalam kehidupan sehari-hari. Meski demikian, saya tidak meninggalkan material konvensional seperti kertas, kanvas, kayu, dan logam, termasuk material turunan plastik seperti cat dan tinta. Seluruh unsur tersebut saya perlakukan setara sebagai medium eksplorasi artistik. Dalam karya lukis, saya menghadirkan figur-figur simbolik yang merepresentasikan alam, manusia, dan relasi keduanya dalam konteks Antroposen. Figur-figur ini tidak hanya merepresentasikan diri saya secara personal, tetapi juga manusia secara kolektif, serta alam itu sendiri yang terdampak oleh aktivitas manusia—termasuk oleh keberadaan plastik. Pendekatan visual saya cenderung surealis, imajinatif, dan simbolik, karena saya meyakini bahwa dunia imajinasi menyediakan ruang proyeksi yang luas bagi pengalaman individual dan kolektif. Warna-warna yang saya gunakan berangkat dari unsur organik dan anorganik yang saya temui dalam keseharian—warna plastik, alam, lumut, dan langit—yang saya olah untuk membangun suasana serta pengalaman psikologis bagi audiens. Simbol-simbol alam seperti pohon dan tanaman kerap saya hadirkan, tidak hanya sebagai elemen ekologis, tetapi juga sebagai simbol spiritual dan fisiologis, yang merefleksikan kedekatan esensial antara manusia, alam, dan material. Perjalanan berkesenian saya membawa saya ke berbagai tempat. Pada tahun 2002 saya sempat berkarya di Bali, dan sejak 2009 saya kembali menetap di Bali sebelum kemudian hijrah ke Semarang. Hingga kini, melalui karya-karya berbasis plastik, saya aktif menggelar pameran tunggal maupun kelompok di berbagai galeri, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bagi saya, seni adalah proses pembacaan ulang atas pengalaman hidup—sebuah upaya berkelanjutan untuk memahami dunia, merawat kesadaran, dan membuka kemungkinan makna baru melalui material yang kerap dianggap selesai dan tak bernilai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar