~Krasak-Krusuk-Kresek~ .Blog ini adalah situs personal (portofolio). Saya gunakan sebagai media berekspresi dengan konten arsip gambar(dokumen), dan karya tulis (kumpulan artikel tentang karya saya).
Senin, 22 Agustus 2016
Senin, 17 November 2014
“Diplomasi Seni, Di Antara Dua Negara Dalam Negeri Kita Sendiri"
“Diplomasi Seni, Di Antara Dua Negara
Dalam Negeri Kita Sendiri"
Dalam Negeri Kita Sendiri"
![]() | ||||||||||
"Diplomasi Seni Di Antara Dua Negara Dalam Negri Kita Sendiri'karya; widodo kabutdo, mix media on canvas100x80cm 2010 (karya ini design
cover buku Naskah Drama Tiga lakon karya:Bpk Nurhidayat Poso Seniman
Sartra Tegal Jawa Tengah.
Pelukis Tegal widodo-widodokabutdo-Nurhidayat Poso sastrawan.Setelah 8th ttak berjumpa, akhirnya bisa berfoto bersama.(foto diatas tidak ada kaitannya dengan tusisan. ini hanya melengkapi data keterangan karya lukis di atas.
Katakanlah dunia seni adalah Negeri kita, meskipun berpolitik
itu hanya sekedar diplomasi cinta antar sesama. Katakanlah Seni adalah Negeri kita …yang di huni orang
jujur, setia, kerja keras, ikhlas, tegar dan apa adanya ,
meskipun keberadaannya masih nupang di negri tetangga. Negeri yang satu ini juga ada banyak
jeritan sama seperti di negri tetangga., Tapi semua itu selalu di selimuti
canda dan tawa, meskipun tak perlu nunjuk siapa presidannya.
Saya khawatir para petinggi di Negeri kita yang satu ini
mempunyai mental seperti
pemimpin di Negri tetangga”Ini hanya sekedar orasi cinta” Pesan saya untuk
para pakar dan petinggi Negeri yang bisa mengendalikan Negeri kita yang satu ini…Ayo Bung!!, rangkullah anak Negeri ini sebelum mereka menjadi keledai di Negeri sendiri dan jangan biarkan
sampai harus menggadaikan di Negeri orang, hanya karna mempertimbangkan gengsi
dan keuntungan semata .”Jangan Tiru Negeri Tetangga” banyak di huni dan melahirkan mental
para pemimpin yang sudah tidak lagi sehat, yang seharusnya Negeri ini bisa SEHAT dan HEBAT. Namun kehebatannya
selalu di sia-siakan dan di acuhkan.
Anak Negeri menangis ….Menangis karna kehebatannya di
kalahkan tanpa adanya musuh yang melawan, anak Negeri murung karna kepintarannya
di sia-siakan dan tergadaikan. Anak Negeri menjadi miskin karna selalu membuat
kaya sebulum dirinya. Anak Negeri hanya
bisa meratap karna tak ada sepenggal
cerita yang bisa di ceritakan, kalau pun ada itu sudah jadi milik Negeri orang”akhir
kisah Anak Negeri hanya berkata ajari aku menanamkan nasionalime dalam diri,
agar aku bisa mencintai dan bangga berkarya di Negeri sendiri.
catatan Handphon....2013 Bali, Ubud "widodo kabutdo"
catatan Handphon....2013 Bali, Ubud "widodo kabutdo"
Sabtu, 15 November 2014
Melukis Itu Sehat, Apalagi Untuk Beristirahat
Melukis bagiku sebuah penyegaran. Bagiku melukis adalah
relaksasi/ istirahat, dengan melukis aku memiliki waktu untuk beristirahat,
kenapa ? karena pada saat melukis aku berusaha untuk tidak berfikir keras lagi,
segera ambil keputusan atau tidak sama sekali dari pada berpikir banyak saat
hendak melukis. dibandingkan sebelum atau dalam keadaan tidak melukis.
Saat melukis aku harus membebaskan apa yang akan muncul
dalam intuisi dan munculnya imajinasi. Meskipun melukis adalah tindakan yang menyenangkan, dan aku sangat mencintai pekerjaan ini, karna melukis sudah menjadi kebutuhan dan
sulit untuk dipisahkan dalam hidup, Namun bagiku melukis sangatlah tidak mudah,
walaupun saya mengatakan melukis adalah cara saya beristirahat.
Dalam melukis aku tidak hanya cukup bisa mengandalkan keahlian mengambar,
dan memiliki ide cemerlang saat hendak melukis, namun dalam melukis aku juga harus
bisa memilih, memfokuskan apa yang bisa aku presentasikan dari apa yang telah saya buat.
Adapun kesulitan lain, diantaranya bagaimana caranya melukis “istirahat” tanpa beban, seikhlas mungkin ,walau sementara
saat melukis, aku harus bisa menanggalkan dulu pikiran, perasaan di luar
persoalan yang kiranya akan dapat mengganggu saat aku melukis “beristirahat”,
dan harus rileks tentunya, Seperti apa yang telah saya katakan melukis adalah
waktu untuk saya beristirahat, jadi seperti layaknya orang yang sedang beristirahat,
melukis ‘istirahat’ tidak bisa di
paksakan dan memaksakan diri. Meskipun itu bisa namun kualitas yang akan menentukan.
Ketika sedang melukis,proses dialog antara hati dan pikiranku
itu selalu terjadi. Dengan demikian, tak jarang saat aku melukis aku berusaha
membagi antara hasil kerja otak/pikiran dan intuisi/suasana hati. Setelah
proses melukis selesai, dialog antara otak dan hati seperti yang sedang
mendiskusikan sesuatu, keduanya saling mempersentasikan hasil kerjanya.Seperti seakan mencari makna dan segera mengambil
keputusan untuk mengembangkan proses kreatif berikutnya hingga batas akhir,
meski seakan karya tak pernah bisa selesai. Adapun dalam proses berkarya yang
memakan waktu hingga bertahun-tahun
lamanya untuk saya bisa memutuskan karya tersebut selesai.
Tak jarang juga hingga berbulan-bulan aku tidak membuat
gambar, bisa seperti diartikan kurangnya
beristirahat. Lalu kapan saya bekerja dan kapan saat saya beristirahat? Saya
bekerja saat saya berpikir, berkontemplasi, observasi, seperti layaknya manusia
yang sedang menjelajahi semesta alam, bersosialisasi. Dan semuanya itu sebagai
bentuk ritual yang menjadi sarana proses spirituallitas diri, Dan lalu aku akan
berhenti untuk beristirahat dengan cara melukis.
Melukis itu penyegaran, seperti beristirahat, Artinya
dalam melukis aku ingin selalu mendapatkan penyegaran dan menyegarkan tentunya. Sesuatu yang membebani
harus segera di tinggalkan, agar dapat menampung kekuatan baru, imajinasi baru,
dan tentunya dengan karya karya baru, yang dapat menyegarkan proses kreatifku
selanjutnya.
Melukis di atas limbah plastik adalah upayaku dalam
berkarya, yang hanya mencoba memanfaatkat limbah plastik, sebagai dasar media untuk aku
melukis. walaupun aku tidak bisa lepas dari berbagi komentar, bahwa pekerjaan
yang berhubungan dengan sampah/limbah selalu di kait-kaitkan dengan lingkungan
(seniman lingkungan). Bagiku seni memikili bahasa yang lentur, terbuka dan universal, termasuk seni harus mengikuti perkembangan industri, karena seni tidak akan bisa lepas dari dunia
industri.
“Widodo Kabutdo” Ubud- Bali 2011
Jumat, 14 November 2014
Seni Rupa Dan Kesadaran Ekologis
The
Last Paradise adalah julukan yang, hingga kini, masih disandang oleh
pulau Bali sebagai destinasi utama yang dikunjungi wisatawan dari
seluruh dunia. Eksotika panorama alam tropis yang tergambar dalam
birunya laut, lengkap dengan pasir putih dan sunset sebagai ornamen
pendukungnya. Citraan itulah yang tentunya sudah melekat dalam benak
semua orang dari seluruh penjuru dunia sebagai ekses dari reproduksi
citra yang ditopang oleh kuatnya modal dari para penggerak industri
pariwisata.
Tidak bisa dipungkiri memang, godaan mata uang asing memang menggiurkan bagi masyarakat dari sebuah negara berkembang. Kemandirian finansial yang belum tertata rapi secara sistematika sosial, dan kultur masyarakat yang terbuka sangat memungkinkan masuknya para investor di sektor wisata. Apalagi dengan modal dasar melimpah dari segi alam dan kultural sebagai daya tarik utama wisatawan.
Di Bali, industri pariwisata telah menjadi penggerak utama perekonomian masyarakatnya sejak kisaran tahun 1950-an. Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah pusat yang terus membuka kran bagi investor untuk masuk dan menggerakkan roda industrinya di Bali. Mungkin sudah lebih dari seratus juta wisatawan yang datang ke Bali sejak kurun waktu tersebut. Seolah-olah, wisatawan sudah menjadi bagian dari tata sosial masyarakat. Mereka sudah begitu leluasa keluar masuk, berseliweran di antara aktifitas sosial dan keagamaan yang dilakukan masyarakat. Bahkan masyarakatnya sendiri pun, sudah tidak risih ketika tengah kusyuk berdoa, dan disampingnya seorang wisatawan asyik memotretnya berulang kali.
Ekses utama dari penggembangan industri prawisata secara jor-joran yang paling nampak saat ini adalah semakin pudarnya relasi antara manusia dan alam, yang padahal merupakan ruh dari tradisi masyarakat Bali secara turun temurun. Alih fungsi lahan hijau menjadi bangunan-bangunan infrastruktur penopang pariwisata tentu berimbas langsung pada makin tergerusnya eksistensi alam sebagai penopang utama keseimbangan ekologi.
Berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap persoalan tersebut berusaha melontarkan kritik terhadap pemerintah, tidak luput beberapa perupa yang turut menyuarakan kritik dengan menggelar pameran. Adalah Galangkangin, kelompok seni rupa yang dimotori oleh I made supena menggelar sebuah pameran dengan tajuk “kesadaran makro ekologis” di Bentara Budaya Bali (20/9) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan ekologis yang terjadi di Bali.
Air menjadi elemen utama yang disoroti oleh mereka. Dengan mengusung gagasan transformasi air dalam ruang seni rupa, mereka mencoba menampilkan berbagai bentuk instalasi yang menggunakan air sebagai pijakan berpikirnya. Bagi mereka, air merupakan sumber kehidupan. Dalam aspek kosmologis, di Bali air juga menjadi komponen utama penggerak sistem sosial dan ekonomi masyarakatnya yang masih didominasi oleh tradisi agraris.
Minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan hidup dengan melestarikan air sebagai komponen utama penyangga alam, menjadi keprihatinan utamanya. Melalui pameran tersebut, Galangkangin melakukan sebuah upaya edukasi terhadap masyarakat mengenai pentingnya air bagi kehidupan, tentu dengan tujuan agar masyarakat semakin peduli dan turut serta menjaga kelestarian alam.
Ini bukan kali pertama Galangkangin mengusung tema pelestarian alam dalam pamerannya. Pada 2012 lalu, Galangkangin juga menggelar pameran bertema serupa di Griya Santrian, Sanur. Saat itu, isu utama yang diusung adalah mengenai peralihan fungsi lahan pertanian menjadi hunian. Semakin meningkatnya jumlah populasi masyarakat yang tinggal di Bali, tidak hanya dari semakin berkembangnya masyarakat lokal, melainkan juga jumlah pendatang yang terus meningkat setiap tahunnya menuntut semakin luasnya areal pemukiman yang dapat ditempati. Hal ini tentu menuntut adanya alih fungsi lahan.
Di Bali sendiri, alam, lingkungan, dan persoalan lingkungan masih menjadi tema utama yang disuarakan oleh para perupa. Beberapa nama di luar kelompok Galangkangin, seperti Made Bayak, Widodo Kabutdo, Bakti Wiyasa, hingga maestro Made Wianta masih menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan ekologis yang kini menjadi persoalan utama di Bali.
Made Bayak dan Widodo Kabutdo, dalam beberapa karyanya cukup konsisten untuk bertransformasi media dari kanvas ke plastik bekas. Mereka tidak lagi melukis di atas kanvas, melainkan di plastik-plastik limbah rumah tangga yang mereka peroleh dari kehidupannya sehari-hari. Kesadaran ini tumbuh dari kegelisahan mengenai tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan, padahal limbah plastik bersifat anorganik dan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dapat terurai sempurna.
Sejak disentuh oleh industri pariwisata, secara perlahan-lahan, Bali mengalami degradasi ekologis yang cukup signifikan. Persoalan-persoalan kelestarian lingkungan dan semakin menurunnya jumlah lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi infrastruktur penopang pariwisata, pada akhirnya menjadi isu yang terus berulang dan terngiang-ngiang di telinga. Maka dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk dapat mengembalikannya ke kondisi semula, atau setidaknya mencegah kerusakan yang lebih parah. Dan para perupa, bersiap untuk menggedor kesadaran mereka melalui karya-karya yang bernas dan kritis.
Dwi S. Wibowo
- See more at: http://jogjareview.net/seni/seni-rupa-dan-kesadaran-ekologis/#sthash.MCLNCegs.dpuf
Tidak bisa dipungkiri memang, godaan mata uang asing memang menggiurkan bagi masyarakat dari sebuah negara berkembang. Kemandirian finansial yang belum tertata rapi secara sistematika sosial, dan kultur masyarakat yang terbuka sangat memungkinkan masuknya para investor di sektor wisata. Apalagi dengan modal dasar melimpah dari segi alam dan kultural sebagai daya tarik utama wisatawan.
Di Bali, industri pariwisata telah menjadi penggerak utama perekonomian masyarakatnya sejak kisaran tahun 1950-an. Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah pusat yang terus membuka kran bagi investor untuk masuk dan menggerakkan roda industrinya di Bali. Mungkin sudah lebih dari seratus juta wisatawan yang datang ke Bali sejak kurun waktu tersebut. Seolah-olah, wisatawan sudah menjadi bagian dari tata sosial masyarakat. Mereka sudah begitu leluasa keluar masuk, berseliweran di antara aktifitas sosial dan keagamaan yang dilakukan masyarakat. Bahkan masyarakatnya sendiri pun, sudah tidak risih ketika tengah kusyuk berdoa, dan disampingnya seorang wisatawan asyik memotretnya berulang kali.
Ekses utama dari penggembangan industri prawisata secara jor-joran yang paling nampak saat ini adalah semakin pudarnya relasi antara manusia dan alam, yang padahal merupakan ruh dari tradisi masyarakat Bali secara turun temurun. Alih fungsi lahan hijau menjadi bangunan-bangunan infrastruktur penopang pariwisata tentu berimbas langsung pada makin tergerusnya eksistensi alam sebagai penopang utama keseimbangan ekologi.
Berbagai elemen masyarakat yang peduli terhadap persoalan tersebut berusaha melontarkan kritik terhadap pemerintah, tidak luput beberapa perupa yang turut menyuarakan kritik dengan menggelar pameran. Adalah Galangkangin, kelompok seni rupa yang dimotori oleh I made supena menggelar sebuah pameran dengan tajuk “kesadaran makro ekologis” di Bentara Budaya Bali (20/9) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan ekologis yang terjadi di Bali.
Air menjadi elemen utama yang disoroti oleh mereka. Dengan mengusung gagasan transformasi air dalam ruang seni rupa, mereka mencoba menampilkan berbagai bentuk instalasi yang menggunakan air sebagai pijakan berpikirnya. Bagi mereka, air merupakan sumber kehidupan. Dalam aspek kosmologis, di Bali air juga menjadi komponen utama penggerak sistem sosial dan ekonomi masyarakatnya yang masih didominasi oleh tradisi agraris.
Minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan hidup dengan melestarikan air sebagai komponen utama penyangga alam, menjadi keprihatinan utamanya. Melalui pameran tersebut, Galangkangin melakukan sebuah upaya edukasi terhadap masyarakat mengenai pentingnya air bagi kehidupan, tentu dengan tujuan agar masyarakat semakin peduli dan turut serta menjaga kelestarian alam.
Ini bukan kali pertama Galangkangin mengusung tema pelestarian alam dalam pamerannya. Pada 2012 lalu, Galangkangin juga menggelar pameran bertema serupa di Griya Santrian, Sanur. Saat itu, isu utama yang diusung adalah mengenai peralihan fungsi lahan pertanian menjadi hunian. Semakin meningkatnya jumlah populasi masyarakat yang tinggal di Bali, tidak hanya dari semakin berkembangnya masyarakat lokal, melainkan juga jumlah pendatang yang terus meningkat setiap tahunnya menuntut semakin luasnya areal pemukiman yang dapat ditempati. Hal ini tentu menuntut adanya alih fungsi lahan.
Di Bali sendiri, alam, lingkungan, dan persoalan lingkungan masih menjadi tema utama yang disuarakan oleh para perupa. Beberapa nama di luar kelompok Galangkangin, seperti Made Bayak, Widodo Kabutdo, Bakti Wiyasa, hingga maestro Made Wianta masih menunjukkan kepeduliannya terhadap persoalan ekologis yang kini menjadi persoalan utama di Bali.
Made Bayak dan Widodo Kabutdo, dalam beberapa karyanya cukup konsisten untuk bertransformasi media dari kanvas ke plastik bekas. Mereka tidak lagi melukis di atas kanvas, melainkan di plastik-plastik limbah rumah tangga yang mereka peroleh dari kehidupannya sehari-hari. Kesadaran ini tumbuh dari kegelisahan mengenai tingginya penggunaan plastik dalam kehidupan, padahal limbah plastik bersifat anorganik dan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dapat terurai sempurna.
Sejak disentuh oleh industri pariwisata, secara perlahan-lahan, Bali mengalami degradasi ekologis yang cukup signifikan. Persoalan-persoalan kelestarian lingkungan dan semakin menurunnya jumlah lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi infrastruktur penopang pariwisata, pada akhirnya menjadi isu yang terus berulang dan terngiang-ngiang di telinga. Maka dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk dapat mengembalikannya ke kondisi semula, atau setidaknya mencegah kerusakan yang lebih parah. Dan para perupa, bersiap untuk menggedor kesadaran mereka melalui karya-karya yang bernas dan kritis.
Dwi S. Wibowo
- See more at: http://jogjareview.net/seni/seni-rupa-dan-kesadaran-ekologis/#sthash.MCLNCegs.dpuf
http://jogjareview.net/seni/seni-rupa-dan-kesadaran-ekologis/
http://jogjareview.net/category/seni/
Seni Rupa dan Kesadaran Ekologis
Seni Rupa dan Kesadaran Ekologis
| Jogjareview.net | 10-Okt-2014 08:10:31 |
The Last Paradise adalah julukan
yang, hingga kini, masih disandang oleh pulau Bali sebagai destinasi utama yang
dikunjungi wisatawan dari seluruh dunia. Eksotika panorama alam tropis yang
tergambar dalam birunya laut, lengkap dengan pasir putih dan sunset sebagai
ornamen pendukungnya. Citraan itulah yang tentunya sudah melekat dalam benak
semua orang dari seluruh penjuru dunia sebagai ekses dari reproduksi citra yang
ditopang oleh kuatnya modal dari para penggerak industri pariwisata.
Tidak bisa dipungkiri memang, godaan
mata uang asing memang menggiurkan bagi masyarakat dari sebuah negara
berkembang. Kemandirian finansial yang belum tertata rapi secara sistematika
sosial, dan kultur masyarakat yang terbuka sangat memungkinkan masuknya para
investor di sektor wisata. Apalagi dengan modal dasar melimpah dari segi alam
dan kultural sebagai daya tarik utama wisatawan.
Di Bali, industri pariwisata telah
menjadi penggerak utama perekonomian masyarakatnya sejak kisaran tahun 1950-an.
Hal ini tidak lepas dari peran pemerintah pusat yang terus membuka kran bagi
investor untuk masuk dan menggerakkan roda industrinya di Bali. Mungkin sudah
lebih dari seratus juta wisatawan yang datang ke Bali sejak kurun waktu
tersebut. Seolah-olah, wisatawan sudah menjadi bagian dari tata sosial
masyarakat. Mereka sudah begitu leluasa keluar masuk, berseliweran di antara
aktifitas sosial dan keagamaan yang dilakukan masyarakat. Bahkan masyarakatnya
sendiri pun, sudah tidak risih ketika tengah kusyuk berdoa, dan disampingnya
seorang wisatawan asyik memotretnya berulang kali.
Ekses utama dari penggembangan
industri prawisata secara jor-joran yang paling nampak saat ini adalah semakin
pudarnya relasi antara manusia dan alam, yang padahal merupakan ruh dari
tradisi masyarakat Bali secara turun temurun. Alih fungsi lahan hijau menjadi
bangunan-bangunan infrastruktur penopang pariwisata tentu berimbas langsung
pada makin tergerusnya eksistensi alam sebagai penopang utama keseimbangan
ekologi.
Berbagai elemen masyarakat yang
peduli terhadap persoalan tersebut berusaha melontarkan kritik terhadap
pemerintah, tidak luput beberapa perupa yang turut menyuarakan kritik dengan
menggelar pameran. Adalah Galangkangin, kelompok seni rupa yang dimotori oleh I
made supena menggelar sebuah pameran dengan tajuk “kesadaran makro ekologis” di
Bentara Budaya Bali (20/9) sebagai bentuk kepeduliannya terhadap
persoalan-persoalan ekologis yang terjadi di Bali.
Air menjadi elemen utama yang
disoroti oleh mereka. Dengan mengusung gagasan transformasi air dalam ruang
seni rupa, mereka mencoba menampilkan berbagai bentuk instalasi yang
menggunakan air sebagai pijakan berpikirnya. Bagi mereka, air merupakan sumber
kehidupan. Dalam aspek kosmologis, di Bali air juga menjadi komponen utama
penggerak sistem sosial dan ekonomi masyarakatnya yang masih didominasi oleh
tradisi agraris.
Minimnya kesadaran masyarakat dalam
menjaga keberlangsungan hidup dengan melestarikan air sebagai komponen utama
penyangga alam, menjadi keprihatinan utamanya. Melalui pameran tersebut,
Galangkangin melakukan sebuah upaya edukasi terhadap masyarakat mengenai
pentingnya air bagi kehidupan, tentu dengan tujuan agar masyarakat semakin
peduli dan turut serta menjaga kelestarian alam.
Karya Widodo Kabutdo di atas medium
plastik bekas
Ini bukan kali pertama Galangkangin
mengusung tema pelestarian alam dalam pamerannya. Pada 2012 lalu, Galangkangin
juga menggelar pameran bertema serupa di Griya Santrian, Sanur. Saat itu, isu
utama yang diusung adalah mengenai peralihan fungsi lahan pertanian menjadi
hunian. Semakin meningkatnya jumlah populasi masyarakat yang tinggal di Bali,
tidak hanya dari semakin berkembangnya masyarakat lokal, melainkan juga jumlah
pendatang yang terus meningkat setiap tahunnya menuntut semakin luasnya areal
pemukiman yang dapat ditempati. Hal ini tentu menuntut adanya alih fungsi
lahan.
Di Bali sendiri, alam, lingkungan,
dan persoalan lingkungan masih menjadi tema utama yang disuarakan oleh para
perupa. Beberapa nama di luar kelompok Galangkangin, seperti Made Bayak, Widodo
Kabutdo, Bakti Wiyasa, hingga maestro Made Wianta masih menunjukkan
kepeduliannya terhadap persoalan ekologis yang kini menjadi persoalan utama di
Bali.
Made Bayak dan Widodo Kabutdo, dalam
beberapa karyanya cukup konsisten untuk bertransformasi media dari kanvas ke
plastik bekas. Mereka tidak lagi melukis di atas kanvas, melainkan di
plastik-plastik limbah rumah tangga yang mereka peroleh dari kehidupannya
sehari-hari. Kesadaran ini tumbuh dari kegelisahan mengenai tingginya
penggunaan plastik dalam kehidupan, padahal limbah plastik bersifat anorganik
dan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk dapat terurai sempurna.
Sejak disentuh oleh industri
pariwisata, secara perlahan-lahan, Bali mengalami degradasi ekologis yang cukup
signifikan. Persoalan-persoalan kelestarian lingkungan dan semakin menurunnya
jumlah lahan pertanian yang dialihfungsikan menjadi infrastruktur penopang pariwisata,
pada akhirnya menjadi isu yang terus berulang dan terngiang-ngiang di telinga.
Maka dibutuhkan kesadaran masyarakat untuk dapat mengembalikannya ke kondisi
semula, atau setidaknya mencegah kerusakan yang lebih parah. Dan para perupa,
bersiap untuk menggedor kesadaran mereka melalui karya-karya yang bernas dan
kritis.
Dwi S. Wibowo
Kamis, 13 November 2014
Berbicara masalah budaya Bali, tidak akan pernah terlepas dari agama
Hindu yang dianut mayoritas masyarakat Bali. Dalam suatu konsep agama Hindu
dalam mempersiapkan sarana persembahyangan, yang antara lain : air, api, bunga,
buah, daun. Dalam budaya Bali, konsep ini kemudian dipraktekkan dalam wujud seni.Salah
satunya adalah keanekaragaman bentuk sesajen.
Canang berasal dari dua suku
kata “Ca” yang berarti indah dan “Nang” yang diartikan sebagai tujuan yang
dimaksud sesuai dengan kamus Kawi/JawaKuno (Sudarsana,
2010:1). Sari berarti inti atau sumber.
Dengan demikian maksud dan tujuan canang adalah
sebagai saran bahasa Weda untuk memohon keindahan kekuatanWidya kehadapan
Ida Sang HyangWidhiWasa beserta Prabhawa (manifestasi) Nya secara skala
maupun niskala.
Keanekaragaman warna, bentuk, fungsi dan makna,
yang tentu tak lepas dari makna filosofisnya.Begitu pula dengan seni
(manifstasi-nya) begitu besarnya dalam menggubah keanekaragaman dari sumberdaya
Alam, Manusia dan Budaya.
Dalam karya “canang” ini saya membuat karya
kolase dari benda yang saya temui sehari-hari dari kehidupan dan lingkungan di sekitar saya.
Walaupun demikian mengingat bahwa plastic kresek menjadi kebutuhan yang sangat lekat
/bahkan bisa di katakana penting bagi masyarakat modern.Begitu juga dengan “Canang” bagi masyarakat Bali “Canang”adalah persembahan
paling inti dalam upacara (sembahyang). Begitu pula Kresek dalam kehidupan masyarakat
modern seolah menjadi bagian dari ritus, bagi masyarakat budaya konsumerisme
pada masa kini. 

Karya seni
yang saya buat adalah bentuk keprihatinan saya terhadap lingkungan khususnya
Bali pada konteks budaya kekinian. Seakan ada harapan bagi kemunculan sebuah
karya seni sebagai reaksi untuk bertindak
dalam membangun konstruksi maupun merekonstruksi wajah maupun prilaku
pada budaya sehari-hari masyarakat kini. Seperti apa yang tersuratkan dari
konsep pada makna yang terkandung pada porosan yang menjadi bagian dari
komponen canang ini.
Porosan terbuat
dari daun sirih, kapur/pamor, dan jambe atau gambir sebagai lambang/nyasa
Tri-Premana, Bayu, Sabda, dan Idep. Daun sirih sebagai lambang warna hitam
sebagai nyasa Bhatara Visnu, dalam bentuk tri-premana sebagai lambang/nyasa
dari Sabda (perkataan), Jambe/Gambir sebagai nyasa Bhatara Brahma, dalam bentuk
Tri-premana sebagai lambang/nyasa Bayu (perbuatan), Kapur/Pamor sebagai
lambang/nyasa Bhatara Iswara, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa
Idep (pikiran). Suatu kehidupan tanpa dibarengi dengan Tri-premana dan Tri
Kaya, suatu kehidupan tiadalah artinya, hidup ini akan pasif, karena dari
adanya Tri-premana dan Tri Kaya itulah kita bisa memiliki suatu aktivitas,
tanpa kita memiliki suatu aktivitas kita tidak akan dapat menghadapi badan ini.
Suatu aktivitas akan terwujud karena adanya Tri-Premana ataupun Tri-kaya.
Dalam karya seri canang
ini, saya bekerja secara spontan untuk membuat komposisi bentuk dan warna, yang
saya gambarkan sebagaimana komponen canang.Secara intuitif saya memilih kresek warna
dominan hitam dan putih sebagaimana di simbolkan yang terdapat pada komposisi/komponen
pada porosan.begitu juga dengan komposisi
yang saya buat secara abstraksi pada tiap panel, yang menjadi bagian fragmen pada
replika komponen-komponen canang. Karya ini saya presentasikan dalam gabungan
beberapa media seni instalasi drawing dan proyektor, dimana pada karya kolase
kresek saya display dalam komposisi berjajar ….panel berada dalam satu dinding
penuh yang saya proyeksi dengan timeline image karya drawing berlatar tumpukan
canang adapun beberapa teks yang saya kutip dari Gita IX.26 (patram puspam
plalam toyam yo me bhatya prayacchati tat aham bhakty-upahrtam asnami
prayatatmanah. Yang artinya: siapapun yang dengan sujud bhakti kehadapan-Ku mempersembahkan
sehelai daun, sebiji buah-buahan,seteguk air, aku terima sebagai bhakti
persembahan dari orang yang berhati suci), dan masih dalam satu partisi ruangan
di hadirkan karya instalasi drawing yang terbuat dari lempengan papan kira kira
berukuran T25cm L2m P3m yang di bungkus kertas putih bergaris kotak-kotak dan
beberapa element karya lain yang menandai sebagai interpretasi rekonstruksi
budaya membuang canang di dalam plastik.
Label:
bali,
canang,
galeri,
indonesia,
karya seni,
kresek,
limbah plastik,
pameran,
plastik,
sampah,
seni bali,
seni indonesia,
seni kontemporer bali,
seni plastik,
senian sampah,
seniman plastik,
widodo kabutdo
Langganan:
Komentar (Atom)







